proyek

Di tahun 2006 kami mulai melakukan riset tentang sejarah bencana alam di Indonesia. Kami dengan segera menyadari posisi unik Indonesia dan apa yang dihadapi oleh masyarakatnya sebagai bangsa yang selama ribuan tahun hidup di wilayah vulkanik dan seismik paling aktif di dunia. Setelah mempelajari kejadian-kejadian historis, termasuk letusan Krakatoa yang memegang rekor dunia dalam hal suara letusannya dan gunung super Toba yang letusannya mampu menurunkan suhu global 3 sampai 3,5 derajat dan menciptakan danau vulkanik terbesar di dunia – dengan panjang 100 km dan lebar 30 km. Dari situ fokus perhatian kami kemudian bergeser pada kejadian-kejadian terkini, khususnya gempa bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006 di Pulau Jawa, yang merupakan pulau terpadat di dunia.

Hal berbeda yang kami temukan adalah fakta meskipun sebenarnya bukan gempa berkekuatan besar (6,3 – 6,4), tetapi gempa ini merupakan gempa paling mematikan yang pernah menghantam pulau ini di abad modern, menewaskan 6.000 orang dan membuat 1.500.000 keluarga kehilangan rumah. Setelah membandingkan data dengan ledakan lain kami terkejut ketika menemukan bahwa 100 gempa yang mirip atau bahkan lebih besar kekuatannya hanya menimbulkan efek yang lebih kecil pada populasi dibandingkan gempa bumi yang terjadi di Pulau Jawa ini.

Penelitian mengungkapkan bahwa sejumlah gunung berapi menjadi aktif kembali beberapa hari setelah gempa tersebut terjadi, termasuk Gunung Semeru, yang jaraknya jauh sekali – 300 km dari pusat gempa. Yang lebih mengejutkan lagi adalah terjadinya semburan lumpur vulkanik di kota Sidoarjo, 260 km dari pusat gempa. Lumpur vulkanik ini, yang dikenal dengan nama LUSI, akhirnya menjadi fokus penelitian kami.

Apa yang dimulai sebagai proyek ilmiah geologi biasa tiba-tiba menjadi pendekatan investigatif yang membutuhkan berbagai macam keahlian dari bisnis eksplorasi gas dan minyak internasional, mulai dari ahli geologis, geofisika sampai ahli gempa bumi.

Sejak awal sudah jelas, karena sejumlah alasan, LUSI bukanlah lumpur vulkanik yang normal. Itu termasuk kekuatan semburannya yang mencapai 150.000 m3 lumpur panas per hari yang berdampak langsung pada kehidupan 40.000 penduduk kurang mampu. Lumpur vulkanik merupakan fenomena biasa di wilayah dengan stres tektonik di seluruh dunia, namun ini adalah yang pertama kali lumpur vulkanik menyembur di area padat penduduk. Tambahan lagi, kontroversi dan intrik dengan cepat berkembang setelah terbuka bahwa perusahaan eksplorasi Australia-Indonesia telah melakukan pengeboran untuk mencari cadangan gas di cekungan sedimen di dekat lokasi semburan lumpur.

Kerjasama modal ini dengan cepat menjadi fokus pemberitaan media-media seluruh dunia, apalagi ada tambahan fakta bahwa rekanan Indonesia dalam kerjasama ini memiliki koneksi politik dan berasal dari dua keluarga paling kaya di Indonesia. Meskipun menjadi rekanan dalam kerjasama modal ini, kedua keluarga tersebut bersaing secara politis dan bisnis, mereka tidak pernah bertatapan muka untuk membicarakan penyebab semburan. Semakin memperbesar kontroversi, mantan ahli geologi Exxon Mobil dan sekarang dikenal sebagai akademisi di Durham University, menjadi berita utama di media-media internasional karena mengeluarkan pernyataan yang menuduh perusahaan eksplorasi tersebut sebagai penyebab semburan lumpur, dan banyak orang sedikit terlalu cepat percaya pada tudingan itu. Sampai dua tahun setelah kami memulai penelitian kami, ia terus mempromosikan teorinya yang menyalahkan perusahaan eksplorasi tersebut melalui kampanye kehumasan yang didanai dan dilakukan secara profesional. Hal ini mengundang kecurigaan terhadap motif orang tersebut, bukan hanya dari para peneliti kami, tetapi juga di kalangan para profesional dan akademisi.

Yang muncul kemudian bukan hanya persoalan tambang mineral politis yang di dalamnya kami juga terlibat, melainkan kebohongan, informasi yang salah dan tuduhan, yang diterima sebagai kebenaran oleh 225 juta penduduk Indonesia.

Menimpali sekian banyak keanehan yang sudah terjadi, pemegang saham utama perusahaan eksplorasi tersebut melakukan tindakan yang tidak biasa dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka setuju untuk mengganti kerugian finansial kepada penduduk yang terkena pengaruh bencana tersebut, sambil dengan kuat mempertahankan posisinya bahwa lumpur vulkanik tersebut merupakan bencana alam biasa. Keluarga ini bisa menjadi apapun kecuali normal, tercatat sebagai keluarga terkaya di Indonesia (Forbes USD9bn) mereka memilih kerahasiaan, privat dan menutup diri dari media. Dalam lingkungan ini, tim kami mendapatkan bantuan berupa kerjasama dari perusahaan eksplorasi, yang setelah mengalami penundaan selama 6 bulan proses pembayaran dividen dimulai.

Apa yang mulai kami singkap adalah cerita berbeda dari apa yang kita harapkan, cerita yang dipengaruhi oleh perbedaan budaya, ketidakpercayaan politis dan dukungan yang besar terhadap kepentingan nasional.

Informasi yang berhasil disingkap dari penelitian kami pada akhirnya akan menjadi ensiklopedia proyek riset ilmu bumi, namun sementara ini keputusannya adalah meluncurkan sebuah website, yang kami harap dapat menjadi sumber laporan yang akurat.