• Lusi Research File 1  [6,5 Mb]

    Kawasan pengeboran gas di sumur BanjarPanji-1 (BJP-1) masih hijau ketika Lapindo Brantas, Inc, melakukan pengeboran ekspolorasi untuk menemukan sumber gas baru.

    Depa demi depa mata bor masuk ke salah satu sudut bumi desa Renokenogo, kecamatan Porong, Sidoarjo

  • Lusi Research File 2  [11,2 Mb]

    Sumur BJP-1 ketika dibongkar, tak ada setetes pun lumpur yang menyembur dari lubang sumur itu.

pengantar

Sejarah LUSI

Tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah, sebuah bencana begitu menarik perhatian dan menimbulkan kontroversi demikian besar seperti LUSI, semburan lumpur vulkanik yang tiba-tiba muncul pada 29 Mei 2006 di Jawa Timur, Indonesia. Sebagian besar bencana biasanya menarik perhatian hanya beberapa jam, hari, atau minggu untuk kemudian hilang dari ingatan publik. Tetapi LUSI adalah bencana yang unik; lumpur panas, yang semburan pertamanya dimulai beberapa saat setelah sebuah gempa bumi berkekuatan besar terjadi sampai saat ini semburannya masih terus berlangsung dengan rata-rata mengeluarkan lumpur sampai 150.000 kubik meter per hari.  Sekitar 40.000 penduduk yang tinggal dekat semburan kehilangan rumah, harta benda, dan dalam beberapa kasus kehilangan nyawa dan penghidupan mereka. Lumpur membanjir seluruh desa, menghancurkan infrastruktur dan meruntuhkan reputasi.

Website ini didedikasikan untuk mengungkapkan fakta tentang bencana besar yang masih terus berlanjut ini, termasuk fakta ilmiah, ekonomi, kemanusiaan, maupun isu politik yang membuat LUSI menjadi perbincangan dunia geofisika.  Semburan lumpur vulkanik paling besar di dunia ini dijuluki LUSI, singkatan dari kata dalam bahasa Indonesia, Lumpur, dan kota di Jawa Timur yang terdekat dari lokasi bencana, Sidoarjo.

 

Runtutan Kejadian

  • 5:54, 27 Mei 2006, gempa bumi terjadi di dekat kota Yogyakarta, Jawa, Indonesia.

 

  • Kekuatan gempa diperkirakan 6,3 skala Richter.

 

  • Dua gempa susulan terjadi, diperkirakan berkekuatan 4,8 dan 4,6 skala Richter.

 

  • Kapal eksplorasi gempa 'Orient Explorer' yang berada 290 km dari lokasi bencana mencatat aktivitas gempa berkekuatan besar.

 

  • Gempa tersebut mengaktifkan Gunung Merapi, 50 km dari pusat gempa, dan Gunung Semeru, 280 km dari pusat gempa.

 

  • 6.000 orang tewas dan 1.500.000 kehilangan tempat tinggal.

 

  • Jawa, pulau berpenghuni sekitar 130 juta jiwa, merupakan pulau terpadat di dunia. Pulau ini juga terletak di pertemuan dua lempeng tektonik yang dikenal dengan nama 'Ring of Fire' (Lingkaran Api).

 

  • Pergeseran dua lempeng tektonik ini menimbulkan gempa.

 

  • Aktivitas seismik merupakan hal biasa di Indonesia. Dua lempeng tektonik ini juga yang pada tahun 2004 lalu menimbulkan tsunami yang menelan korban lebih dari 300.000 jiwa. 

 

  • 250 km dari lokasi gempa, perusahaan eksplorasi Lapindo Brantas melakukan pengeboran untuk mencari cadangan gas di cekungan sedimen yang disebut Formasi Kujung.

 

  • Tim pengeboran merasakan goncangan yang ditimbulkan gempa tersebut.

 

  • 7 menit setelah gempa, terjadi semburan liar di sumur pengeboran. 

 

  • Tim pengeboran mengendalikan situasi dengan menerapkan standard normal industri.

 

  • Pengeboran kemudian dilanjutkan.

 

  • Beberapa jam kemudian, dua gempa susulan terjadi.

 

  • Kembali terjadi semburan liar di sumur tersebut, situasi ini juga kemudian dikendalikan dengan tindakan sesuai standard normal industri.

 

  • Pengeboran kemudian dilanjutkan.

 

  • Retakan besar di dalam tanah ditemukan di area pengeboran.

 

  • 5:00 AM the following day a mud eruption was spotted southwest 200 meters from the drilling platform.

 

  • Hari berikutnya, pukul 5:00 pagi, semburan lumpur muncul di arah barat daya, 200 meter dari pusat pengeboran.

 

  • Lumpur menyembur dari tiga lokasi sepanjang permukaan retakan yang baru saja terbentuk.

 

  • Dalam dua hari muncul lebih banyak lagi titik semburan lumpur, kali ini 500 meter dari pusat pengeboran.

 

  • Semburan muncul dalam satu garis lurus sepanjang patahan Watukosek dari Pegunungan Penanggungan sampai Pulau Madura.

 

  • Semburan lumpur ini – yang nama ilmiahnya 'lumpur vulkanik' – dinamai 'LUSI', singkatan dari kata dalam bahasa Indonesia, Lumpur, dan kota terdekat dari lokasi bencana, Sidoarjo.

 

  • LUSI terus-menerus menyemburkan lumpur sejak 29 Mei 2006 dan para ilmuwan percaya bahwa tidak ada cara untuk menghentikan semburan lumpur tersebut.