• UN Report, Enviromental Assessment (June&July 2006)  [274,5 Kb]

    Final Technical Report: 
    United Nations Disaster Assessment and Coordination mission in June & July 2006 and Follow-up mission in July 2006

  • Presentasi dari Lapindo (Juni 2007)  [4,0 Mb]

    CORPORATE RESPONSE & HUMAN NEEDS
    EAST JAVA MUDFLOW DISASTER

dampak sosial

Per 4 Juli 2006, total jumlah penduduk yang kehilangan tempat tinggal mencapai 6.915 orang. 5.664 orang di antara para pengungsi tersebut disediakan tempat perlindungan sementara di Pasar Baru dan 717 orang pengungsi lainnya ditempatkan di Balai Desa Renokenongo. 534 orang pengungsi lainnya ditampung oleh keluarga mereka yang tinggal di lokasi aman. Ada 1.382 orang anak usia sekolah di antara jumlah total pengungsi.

Fasilitas-fasilitas sosial hancur karena lumpur,  termasuk 17 sekolah dan 15 pabrik. Berbagai tipe usaha kecil dan menengah ikut hancur karena Lumpur, termasuk pabrik jam tangan dan jam dinding, konstruksi baja, produsen makanan dan produsen furnitur rotan. Bahan-bahan material yang digunakan oleh pabrik-pabrik ini kemungkinan menjadi polusi tambahan yang ikut bersama aliran lumpur.

Ketegangan semakin meningkat di antara penduduk di kedua sisi bendungan pelindung yang dibangun untuk mencegah meluasnya banjir lumpur. Penduduk desa merusak bendungan sehingga lumpur membanjiri area di kedua sisi.

Pada tanggal 20 Juni 2006, Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia meminta bantuan teknis dari Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), badan PBB yang mengurusi masalah kemanusiaan, untuk identifikasi dampak lingkungan banjir lumpur. Penjajakan dilakukan dari 25 Juni sampai 6 Juli dan melaporkan beberapa temuan dan kesimpulan berikut:

  • Dampak saat ini pada kesehatan manusia dan lingkungan rendah karena lumpur dibendung di atas tanah cekungan.
  • Bendungan bukanlah solusi yang berkelanjutan.
  • Melepaskan lumpur secara tiba-tiba ke lingkungan air akan membunuh ekosistem air dan memiliki konsekuensi kemanusiaan yang serius.
  • Senyawa organik pada level yang normal (termasuk phenol) ditemukan dalam lumpur.
  • Contoh udara dan pengukuran kualitas udara tidak memperlihatkan konsentrasi gas-gas beracun (termasuk hidrogen sulfida) di atas tingkat yang diharapkan.
  • Risiko dari emisi gas beracun, gempa bumi dan zat lain belum diketahui, tetapi harus diperhatikan.
  • Riset dan pengawasan tambahan terhadap kualitas lumpur masih diperlukan sebelum statemen final tentang kadar toksik dalam Lumpur dapat dibuat. Walaupun begitu, senyawa organik dan logam berat, termasuk phenol dan merkuri, tidak ditemukan di atas batas normal.


Dalam beberapa bulan, semburan lumpur telah membuat 15.000 penduduk kehilangan tempat tinggal. Kehancuran properti dan bisnis meluas, lumpur mengggenangi lebih dari 250 ha sawah, pabrik, budidaya ikan dan membanjiri 8 desa di kawasan Porong, Sidoarjo.

Pada 23 November 2006, sebuah pipa gas meledak setelah pergerakan tanah (bergeser ke samping) menyebabkan pipa tersebut patah, membuat 11 orang cedera. Infrastruktur transportasi dan transmisi listrik menjadi tidak bisa digunakan, termasuk jalan raya utama, jembatan (belakangan dibongkar) dan rel kereta ikut rusak karena pergeseran permukaan bumi.

Pada Desember 2006, fasilitas darurat untuk relokasi mengakomodasi 26.500 pengungsi.

Juni 2008, lebih dari 40.000 orang kehilangan tempat tinggal. Area yang dirancang berada di bawah tanggungjawab perusahan eksplorasi sudah rusak, meninggalkan area baru itu ke tangan pemerintah.